Artikel Kesehatan


21-09-2015 | Hit : 415

Tekanan darah tinggi secara tiba-tiba dan keluarnya kadar protein secara berlebih pada urine pada saat masa kehamilan harus diwaspadai. Hal itu merupakan tanda preeklamsia yang biasanya terjadi pada kehamilan pertama kali pada usia kandungan sekitar 20 minggu ke atas.

Preeklamsia

dr Julian Dewantiningrum, Sp.0G dari RSUP dr. Kariadi  mengatakan, risiko preeklampsia lebih tinggi terjadi pada wanita hamil di usia lebih dari 40 tahun, saat kehamilan pertama, kehamilan dengan riwayat preeklampsia, hamil dengan bayi kembar, dan obesitas. Adapun gejala yang dialami penderita biasanya seperti mengalami pandangan kabur, nyeri pada ulu hati, sering pusing, mual, dan muntah tanpa sebab.


''Preeklamsia merupakan kondisi tekanan darah yang tinggi secara tiba-tiba dan kelebihan protein yang dikeluarkan lewat  urin semasa kehamilan. Jika dibiarkan kondisi itu bisa menyebabkan kejang, kerusakan sel darah merah, gagal ginjal, jantung, dan peningkatan fungsi enzim dalam hati,'' ujarnya.


Dia menerangkan, banyak pasien yang tidak sadar berbagai risiko preeklampsia terhadap kehamilan. Salah satu gejala seperti tekanan darah tinggi dianggap hal biasa  selama kehamilan. Padahal wanita hamil berpotensi dan rentan terhadap preeklampsia.


Pada janin preeklampsia bisa menghambat pertumbuhan, meningkatkan risiko kelahiran prematur, melepasnya plasenta tidak pada waktunya, dan yang paling parah bisa menyebabkan kematian janin mendadak. Diterangkannya saat ini kasus preklamsia saat ini tingkat kegawatannya lebih tinggi ketika pasien memeriksakan diri seperti sudah terjadi komplikasi ke jantung, ginjal, dan otak.


''Kecenderungan jumlah kasus meningkat, meski saat tingkat insiden belum bermakna. Tapi kebanyakan pasien yang datang dengan kondisi yang cukup parah. Pasien harus menyadari gejala yang ada, dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan diri ke rumah sakit,'' imbuhnya.


Penanganan untuk mengatasi preeklamsia bisa dilakukan beberapa terapi seperti terapi gizi, obat-obatan, dan psikologis. Terapi gizi dengan memberikan asupan protein kepada ibu hamil karena kadar protein yang keluar terlalu banyak melalui urine.


Selain itu sebelum dan semasa kehamilan, calon ibu harus rutin memeriksakan diri demi kesehatan ibu dan bayi. Juga harus menjaga berat badannya agar tidak terjadi obesitas karena menjadi salah satu faktor risiko preeklamsia.


''Saat kondisi hamil perlu dilakukan lebih sering pemeriksaan. Selain itu konsumsi makanan yang tinggi protein, kurangi makanan berlemak dan garam, dan cukup beristirahat. Setelah kehamilan biasanya preeklamsia akan hilang dengan sendirinya,'' tandasnya. (fri-)

Navigation