Artikel Kesehatan


29-09-2011 | Hit : 2183

Jantung koroner masih menduduki peringkat teratas penyebab kematian. Penyakit jantung menduduki peringkat teratas dalam daftar penyakit berat yang bisa mengakibatkan kematian. Namun demikian masyarakat banyak yang belum paham akan seluk beluk dan penyebab serta solusi pencegahan penyakit jantung. Jenis-jenis penyakit jantung bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Yaitu penyakit jantung bawaan, diperoleh dari lahir, dan penyakit jantung yang diperoleh karena pasien bersinggungan dengan berbagai factor resiko. Penyakit jantung bawaan biasanya langsung diketahui saat bayi baru lahir.

 

Jantung bawaan

Biasanya berupa adanya kebocoran pada sekat jantung sebelah kanan dan jantung sebelah kiri. Karenanya maka darah kotor yang ada pada bilik jantung kanan bisa masuk dan mencampuri darah bersih pada bilik jantung sebelah kiri.

Gejala yang timbul adalah timbulnya warna biru pada bibir, kuku, atau telapak tangan. Karena timbul warna biru inilah maka kelainan bawaan ini disebut cyanotic. Yang berarti warna biru. Kelainan bawaan yang biasannya baru diketahui saat bayi sudah beranjak dewasa adalah kebalikannya yaitu acyanotic. Penyebabnya sama, yaitu kebocoran sekat jantung. Namun karena kebocoranya tidak parah maka darah kotor tidak masuk mencapuri darah bersih.

Termasuk golongan acyanotic adalah kelainan jantung kardiomiopati yang dibagi menjadi 3 yaitu kardiomiopati hipertrofik, disebabkan karena adanya penebalan otot abnormal, kardiomiopati dilaktasi, yaitu kelainan yang berupa pembengkakan jantung yang disebabkan karena otot-otonya lemah, serta kardiomiopati testriktif, yaitu kelainan pada otot serta jaringan sekitar jantung yang m enyebabkan jantung tak bisa mengembang sempurna.

Khusus untuk cyanotic, harus dilakukan operasi untuk menutup lubang kebocoran yang ada. Pelaksanaan operasi menunggu kondisi bayi sudah stabil. Ibu hamil yang mengkomsumsi obat tidak menurut resep dr, jamu-jamu secara sembarangan, merokok bisa menyebabkan gangguan perkembangan janin.

Akibat Pola Makan

Pada penyakit jantung koroner bisa disebabkan karena multifactor, bisa karena kolesterol tinggi, kencing manis, hipertensi, merokok, obesitas atau kurang olah raga.

Pada penyakit jantung koroner kelainan terjadi pada penyempitan pemuluh darah koroner. Pembuluh darah koroner adalah pembuluh darah paling vital karena pembuluh ini bertugas mengantarkan segala kebutuhan yang dibutuhkan jantung untuk bekerja. Pembuluh inilah yang bertugas mengantarkan makanan kepada jantung.

Bila pembuluh ini menyempit makanan yang didapatkan berkurang. Penyempitan bisa terjadi karena adanya timbunan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) pada sisi pembuluh darah yang disebut dengan plak. Di dalam pembuluh darah terdapat lapisan pada dinding yang bernama endotel. Lapisan ini sangat licin sehingga membuat berbagai zat yang dibawa darah tak bisa menempel di atasnya. Nah jika terkenan berbagai factor resiko, semisal nikotin di dalam rokok, maka lapisan ini akan berkurang kelicinannya sehingga akan banyak zat yang bisa menempel di sana. Jika pembuluh darah koroner menyempit maka kerja jantung akan terganggu dan pasien akan menderita sesak nafas dan nyeri dada. Dimana hal ini terjadi pada saat pasien beraktifitas, dan akan berhenti saat pasien beristirahat.

Nyeri dan sesak dalam penyakit jantung koroner yang disebut sebagai tahap serangan bernama angina pectoris ini uga memiliki kekhasan lain. Yaitu bahwa nyeri terletak di tengah-tengah dada, terkadang agak sedikit serong ke kiri. Nyeri juga biasanya menjalar hingga punggung, leher atau lengan kiri. Nah bila bila penyempitan terjadi membuat jantung berhenti memompa secara total, maka terjadilah yang dinamakan serangan jantung itu, ini berbahaya sebab jika tidak segera mendapat pertolongan pasien bias menuju kematian.

Penyakit jantung koroner memang sangat mematikan karenanya jika anda di atas 40 tahun dan memiliki keluhan-keluhan yang termasuk kedalam kelompok angina pectoris, segeralah berlari ke medis untuk mendapatkan pemeriksaan lengkap. Kebanyakan penderita penyakit ini adalah laki-laki, karena perempuan memiliki hormone estrogen yang bersifat melindungi sangat protektif. Hormone ini masih bekerja hingga seseorang mencapai monopouse. Sumber : Dr. Sodiqur Rifqi, SpJP, Spesialis Penyakit Jantung RSUP Dr. Kariadi

 

Navigation