Profil Kami


Sejarah singkat berdirinya RSUP Dr Kariadi sampai dengan ditetapkan menjadi Rumah Sakit BLU saat ini.

Didirikan pada jaman penjajahan Belanda tanggal 9 September 1925 dikenal dengan nama Centrale Buzgerlijke Ziekewsichting (CBZ), kemudian pada jaman penjajahan Jepang menjadi “Purusara” (Pusat Rumah Sakit Rakyat).

  1. Menjadi rumah sakit vertikal milik Departemen Kesehatan dengan nama RSUP Dr. Kariadi berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No. 21215/Kab/1964 tanggal 14 April 1964.
  2. Berdasarkan SK Menkes RI no.546/Men.Kes/SK/III/1978 diklasifikasi menjadi Rumah Sakit Umum klas B Pendidikan dan dengan SK Menkes RI no. 134/Menkes/SK/1978 mengatur tentang struktur RS. Dr. Kariadi.
  3. Berdasarkan SK Menkes RI No.1130/Menkes/SK/XII/1003, tanggal 10 Desember 1993 ditetapkan menjadi RS Unit Swadana dengan struktur organisasi berdasarkan SK Menkes No. 546/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994 Tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUP Dr. Kariadi.
  4. Pada tahun 1997 sebagai Instansi Pemerintah Pengguna Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berdasarkan UU No. 20 tahun 1997.
  5. Berdasarkan PP No. 120 Tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan RSUP Dr. Kariadi, status rumah sakit berubah menjadi Perusahaan Jawatan yang operasional mulai Tahun 2002.
  6. Terakhir pada tahun 2005 diubah statusnya menjadi Instansi Pemerintah yang menerapkan PPK-BLU berdasarkan PP No. 23 tahun 2005 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1243/MENKES/SK/VII/2005 tanggal 11 Agustus 2005.

Periode 1925 – 1942 ( Masa Pemerintahan Hindia Belanda )

Pada tahun 1919 tercetuslah gagasan dan rencana dari dr. N.F. Liem untuk mengganti dan menggabungkan Rumah Sakit Kota ( “ Stadverband Ziekenhuis “ ) yang ada di Tawang dengan Rumah Sakit Kota Pembantu ( “ Hulp Stadverband Ziekenhuis “ ) di Alun – alun Semarang. Rencana tersebut dapat diwujudkan dengan membangun sebuah rumah sakit yang lebih besar di kota Semarang. Pembangunan Rumah Sakit dimulai pada tahun 1920 dan selesai lima tahun kemudian.

Maka tepat pada tanggal 9 September 1925 lahirlah “ Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting “ yang terkenal dengan nama CBZ. Pada waktu itu kapasitas rumah sakit adalah 500 tempat tidur. Tempat perawatan orang sakit terdiri dari bangsal – bangsal besar yang menampung empat puluh lima tempat tidur. Fasilitas ruangan tersebut disesuaikan dengan penghidupan kaum “ Indlander “ pada Zaman itu. Beberapa spesialisasi sudah ada, yaitu bagian penyakit dalam, bagian bedah, bagian kebidanan dan penyakit kandungan. Rupa – rupanya perencana Ooiman Van Leeuwen dan Opzichter pelaksana Bapak Wijanarko sudah berfikir lebih jauh, sehingga dalam system bangunan – bangunan sudah tampak jelas pemisah antara poliklinik dan ruang perawatan nginap. Keadaan ini mungkin dapat diketahui setelah mereka melihat dan mempelajari bangunan – bangunan untuk tempat perawatan orang sakit, sekaligus telah dibangun pula asrama – asrama, dapur, pencucian, laboratorium, kamar obat, kantor administrasi dan garasi.

Perumahan dokter dan karyawan perawatan dibangun mengelilingi rumah sakit, rupanya hal ini dirancang demi efisiensi. Tidak perlu sarana transportasi bagi pegawai yang memang masih langka pada zaman itu, disamping agar dapat dengan cepat bertindak dalam hal – hal yang bersifat gawat darurat. Sarana olah ragapun tidak luput dari pemikiran mereka, maka dibangun pula lapangan sepak bola.

Direktur yang pertama memimpin rumah sakit ini ialah dr. N.F. Liem. Nama dr. Lie mini dan nama isterinya Liembergsma kemudian dipergunakan untuk nama jalan di kompleks perumahan tenaga perawatan. Pada mulanya rumah sakit ini mengutamakan pada fungsi pelayanan medis berupa pengobatan kuratif dan fungsi pendidikan paramedis. Dalam periode ini berdiri bagian – bagian yang baru, yaitu bagian mata, THT dan Kulit Kelamin. Hal ini dapat dilakukan berhubung dengan berdirinya Rumah Sakit Tentara di Semarang yang sudah mempunyai dokter ahli untuk bagian – bagian tersebut.

Pendidikan paramedic yang dizaman itu terkenal dengan nama “ Mantri Verpleger ( ster ) dan vroedvrouw “ makin hari makin banyak memikat hati anak – anak Bumiputra, walaupun mereka mengetahui betapa keras dan ketatnya disiplin yang dijalankan oleh zuster – zuster Belanda. Menjadi murid pada zaman itu harus mempunyai mental yang sangat kuat dan harus disertai fisik yang betul – betul sehat, karena di dalam duapuluh empat jam harus bekerja dari jam 17.00 sampai jam 05.00 pagi hari berikutnya. Tidak sedikit yang dipecat karena kesalahan yang kecil saja. Tetapi hal ini membawa hal – hal yang positif dikemudian hari, karena mantri – mantri CBZ Semarang kualitasnya dapat dibanggakan. Dibidang olah raga sepak bola, kesebelasan CBZ pernah mendapat tempat yang terhormat di tengah klub – klub yang ada di kota Semarang.

Periode 1942 – 1945 ( Zaman Pendudukan Jepang )

Pada masa pendudukan Jepang sejak tahun 1942 – 1945 rumah sakit tidak banyak mengalami perubahan. Penguasa Jepang membatasi diri, hanya meneruskan dan menjalankan usaha – usaha yang sudah ada. Dalam periode ini yang perlu dicatat ialah pindahnya poliklinik ( 1944 ) dari tempat lama yang semula berdampingan dengan kantor administrasi yang sekarang ke tempat yang baru ( unit rawat jalan yang lama ).

Hal lain yang perlu dicatat bahwa pada masa tersebut tidak satupun orang Jepang yang bekerja di rumah sakit ini. Hal ini sangat menguntungkan, karena dengan demikian pemuda – pemuda rumah sakit dapat lebih leluasa menggabungkan diri dengan pejuang – pejuang lainnya di kota Semarang. Sesudah Jepang masuk, dokter – dokter Belanda ditawan dan untuk mengisi kekosongan pimpinan rumah sakit maka dr. Notokuworo bertindak sebagai Direktur. Tetapi tidak lama kemudian pimpinan rumah sakit dipegang oleh dr. Buntaran Martoatmodjo sampai tahun 1945. Dari sini dapat dilihat bahwa sejak pemerintah Hindia Belanda menyerah pada Jepang, rumah sakit ini sudah dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri. Pemerintah Jepang mengganti nama CBZ menjadi PURUSARA singkatan dari “ PUSAT RUMAH SAKIT RAKYAT “ yang dalam bahasa Jepang disebut “ Chuo Simin Byoing “.

Periode 1945 – 1950 ( Masa Revolusi / Peralihan )

Jepang kemudian dapat dikalahkan oleh Sekutu; dan pada saat yang bersamaan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Rupanya pihak Jepang hanya mau tunduk kepada Sekutu, akibatnya meletuslah pertempuran lima hari di kota Semarang. Dokter M. Kariadi bersama delapan orang karyawan rumah sakit lainnya gugur sebagai pahlawan dalam masa pertempuran ini. Berhubung dengan itulah maka setiap tahun pertempuran lima hari di Semarang diperingati di rumah sakit ini.

Kedatangan NICA di kota Semarang tidak dapat ditahan lagi. Banyak dokter dan karyawan perawatan yang meninggalkan kota menuju daerah – daerah Republik. Kemudian banyak di antara mereka mendapat kedudukan yang baik di kalangan militer dan dibidang pemerintahan. Tetapi karyawan lainnya masih diizinkan tetap tinggal di rumah sakit sebagai non kooperator. Mereka tetap republikein di tengah – tengah kekuasaan NICA. Berhubung dokter Buntaran sudah lebih banyak berada di Jakarta, maka sejak tahun 1945 sampai dengan 1948 rumah sakit ini dipimpin oleh dr. Soekarjo.

Periode 1950 – sampai sekarang

Sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia maka rumah sakit ini berganti nama menjadi R.S.U.P. singkatan dari RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Semarang, dan sejak tanggal 14 April 1964 diganti menjadi RUMAH SAKIT DOKTER KARIADI ( SK. Menteri Kesehatan No. 21215/Kab/1964 ).Mulailah para pemimpin rumah sakit memikirkan perkembangan dan pembangunan Rumah Sakit sesuai dengan tuntutan alam kemerdekaan.jumlah penduduk yang makin bertambah, pengertian masyarakat tentang kesehatan yang makin meningkat serta kemajuan dibidang ilmu pengetahuan kedokteran menuntut perlu segera penambahan – penambahan fasilitas, tetapi di pihak lain, keuangan pemerintah belum memungkinkan, maka pimpinan rumah sakit selalu dihadapkan kepada persoalan yang rumit.

Navigation