Rujukan Nasional



15-12-2018 | Hit : 4571

Produk Layanan Unggulan

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) DR. Kariadi melakukan pelayanan bedah minimal invasif (Digestif) menggunakan sistem laparoskopi untuk penanganan kasus hepatobilier tumor pankreas, hati, dan saluran empedu pada pasien. Layanan ini merupakan yang kali pertama dilakukan RSUP dr. Kariadi dan juga di Indonesia. Untuk penanganan hepatobilier bedah laparoskopi memang masih langka di Indonesia. Baru RSUP dr. Kariadi yang sudah menangani skala nasional dan juga tim dari RSCM Jakarta,” ujar dr. Erik Prabowo, M.Si. Med, SpB-KBD. Erik menyebutkan tindakan medis dengan bedah Digestif menggunakan layanan laparoskopi itu dilakukan pada pasien yang terindikasi tumor ganas, dan sebagian kecil tumor jinak. "Ada berbagai macam yang ditangani seperti, kanker hati dan pankreas, tumor limpa, nanah pada hati, kista pada hati maupun operasi pada kelainan bayi baru lahir kurang dari 28 hari. Semua sudah ada yang kita tangani,"terangnya. Untuk penindakan medis, bedah konvensional memiliki keunggulan bagi pasien. Namun, untuk proses pembedahan harus dilakukan melalui pembiusan terlebih dahulu. "Tindakan ini seperti operasi ringan yang memerlukan 3-4 mm lubang pada bagian pusar dan sekitar perut sebagai sarana memasukkan alat teropong, semacam kamera kecil dan alat lain untuk menunjang operasi. Jadi, dokter akan melakukan pembedahan dengan cara memantau lewat kamera yang telah dimasukkan ke dalam perut dan tersambung ke layar monitor,” jelas dr. Erik. Proses pemulihan pascaoperasi bedah Digestif ini juga memberikan kenyamanan bagi pasien. Selain masa penyembuhan yang cepat, bekas sasaran pascaoperasi juga tidak kelihatan. "Keunggulan pada operasi laparoskopi ini meminimalisasi trauma pada tubuh pasien, luka sayatan lebih kecil, meminimalisasi perdarahan, mempercepat pemulihan dari menggunakan obat nyeri, sehingga rawat inap lebih singkat sekitar tiga-empat hari sudah bisa pulang. Pasien juga bisa lebih cepat beraktivitas,"tandasnya. 

Laparoskopi Hepatobilier Sederhana

            - Pengangkatan kantung empedu

            - Nanah pada hati

            - Kista pada hati

            - Biopsi hati, pankreas dan limpa

  • Laparoskopi Hepatobilier Kompleks

            - Eksplorasi saluran empedu pada batu saluran empedu

            - Whipple Prosedure (pengangkatan tumor pankreas)

            - Reseksi Hati Anatomikal dan non anatomikal pada tumor hati primer maupun  metastasis

  • Laparoskopi Colorectal

            - Pengangkatan tumor usus besar

            - Pengangkatan tumor rectum

  • Laparoskopi Bariatric Surgery

            Pembedahan minimal invasif pada obesitas

  • Laparoskopi hernia
  • Laparoskopi usus buntu

 

Bedah Anak

  • Laparoskopi Hepatobilier (Kantung empedu, kista saluran empedu, tumor hati)
  • Laparoskopi Hernia
  • Laparoskopi Splenectomy (pengangkatan limpa)
  • Laparoskopi HPS (pada penyakit penyempitan muara lambung)
  • Laporoskopi Biopsi Tumor
  • Laparoskopi Hirschsprung’s (megacolon) 

Bedah Urologi

  • Laparoskopi orchidectomy (pengangkatan testis intraabdomen)
  • Laparoskopi varicocele

 

Bedah Orthopedi

  • Artroskopi : sendi bahu, lutut, pergelangan kaki
  • Spine : MISS minimal invasive spine surgery (vertebroplasty, mikroendoscopic dissectomy)

Bedah Onkologi

  • Endoskopi Thyroidectomy (pengangkatan tumor kelenjar gondok dengan insisi kecil)

 

Keunggulan bedah minimal invasif

Tentunya jika dibandingkan dengan bedah konvensional memiliki keunggulan untuk pasien sebagai berikut:

  • Meminimalisir trauma pada tubuh pasien
  • Luka sayatan akan lebih kecil
  • Meminimalisir perdarahan
  • Mempercepat pemulihan dari menggunakan obat nyeri
  • Lama rawat inap lebih singkat
  • Pasien akan lebih cepat kembali ke aktivitas normal

 

Keterbatasan bedah minimal invasif

Sangat penting untuk dipahami bahwa bedah minimal invasif juga memiliki keterbatasan sebagai berikut:

  • Mungkin tidak sesuai untuk semua pasien dan semua prosedur
  • Pada beberapa prosedur memerlukan waktu yang lebih lama daripada bedah konvensional
  • Memerlukan pelatihan spesialis khusus, tentunya tenaga spesialis yang mampu melakukan prosedur ini terbatas, hanya pada rumah sakit tertentu.
  • Apabila komplikasi terjadi, atau pada situasi yang tidak diinginkan, bedah minimal invasif dapat berubah menjadi bedah terbuka.

Navigation